Pokemon Go dan Neofobia

Oleh Joevarian Hudiyana

 

Kita hidup dalam era dimana segala informasi berada dalam genggaman kita. Entah itu untuk membuka facebook; melihat-lihat foto di instagram, mengobrol dengan whatsapp; atau membaca berita terkini dari internet, pemandangan orang yang sibuk dengan dunia maya sudah tidak asing di mata kita. Dimanapun, kita akan melihat orang-orang sibuk dengan perangkat seluler mereka masing-masing.

Tapi nampaknya baru-baru ini kesibukan itu naik ke level berikutnya. Sekarang ini, orang bisa menangkap makhluk-makhluk imajiner bernama pokemon dalam sebuah bola kecil menggunakan smartphone. Cukup mengunduh aplikasi bernama Pokemon Go, mendaftarkan akun google, dan menyalakan GPS, kita bisa menangkap Pikachu, Bulbasaur, Charmander, Squirtle, dan ratusan spesies pokemon lainnya. Kita hanya perlu keluar rumah dan mengunjungi berbagai tempat.

Tidak disangka-sangka, aplikasi Pokemon Go ternyata cukup menghebohkan Indonesia. Dalam waktu singkat saja, banyak orang mulai menyukai dan mengikuti tren baru ini. Media massa pun mulai memberitakan fenomena tersebut. Sebetulnya ini tidak mengherankan jika melihat konsep Pokemon Go yang cukup revolusioner. Mereka menjadikan dunia nyata sebagai proyeksi dari program komputer (augmented reality). Disini dunia nyata akan tampak seperti tempat dimana pokemon benar-benar hidup. Dengan kata lain, menangkap pokemon di perangkat seluler seakan-akan benar-benar menemui pokemon itu di dunia nyata.

Neofobia

Tetapi hal-hal baru dan asing biasanya menimbulkan kecurigaan dari pihak-pihak tertentu. Beredar berita-berita yang mengaitkan aplikasi tersebut dengan kecelakaan-kecelakaan yang dialami beberapa orang. Ada lagi yang mengatakan bahwa Pokemon Go akan mengancam keamanan atau stabilitas Negara.

Tetapi yang paling membelalakkan mata adalah artikel dan pesan yang isinya mengatakan bahwa Pokemon Go adalah sebuah upaya konspirasi. Pokemon dianggap memiliki arti ‘saya Yahudi’ dan Pikachu berarti ‘jadilah seorang Yahudi’. Padahal Pokemon sendiri merupakan abreviasi Pocket Monster yang maksudnya adalah raksasa dalam kantong sesuai tema menangkap dalam bola kecil. Sementara itu Pikachu merupakan kombinasi dua suara dalam bahasa Jepang, yaitu ‘pika’ yang identik dengan suara listrik dan ‘chu’ yang identik dengan suara hewan pengerat.

Kecurigaan-kecurigaan semacam itu mungkin merepresentasikan apa yang dikenal dengan istilah neofobia; ketakutan akan hal-hal atau pola-pola baru. Pada dasarnya manusia sangat menyukai kepastian dan membenci hal-hal yang mengancam kepastian itu. Kepastian menimbulkan perasaan tenang. Tetapi ketidakpastian justru membuat kita cemas dan takut. Ambil contoh orang yang sehari-harinya berangkat naik kereta. Setiap hari, ia naik kereta itu jam 06.00 pagi. Kebiasaan itu membuat ia merasakan adanya suatu kepastian serta perasaan aman. Tetapi bagaimana jika tiba-tiba kereta kecelakaan atau tertunda? Besar kemungkinannya orang itu akan merasa tidak nyaman menghadapi gangguan tersebut. Saat ini terjadi, orang akan berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan ketidakpastian menjadi kepastian.

Begitu pula dengan fenomena Pokemon Go. Sebelumnya, orang pergi ke luar rumah hanya untuk bekerja, bertemu teman, membeli kebutuhan, atau rekreasi. Sekarang, banyak orang keluar rumah hanya karena sebuah alasan: menangkap pokemon. Orang berjalan-jalan di sekeliling perumahan, masuk ke dalam pekarangan rumah tetangga, atau terjatuh ke selokan karena ingin dapat pokemon. Orang ke Masjid atau Gereja bukan karena mau beribadah, tetapi karena ada banyak pokemon disitu. Di GBK, orang yang biasanya hanya berolahraga pagi sekarang juga harus menemui banyak penggemar pokemon.

Terjadilah suatu pola baru saat kita keluar rumah. Kepastian yang biasanya ditemui tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Semua orang menjadi nampak eksentrik di luar rumah demi mencari pokemon. Ada yang naik ke pohon, memanjat pagar rumah orang, berteriak kegirangan di kantor, tertawa sendirian, atau berputar-putar di tempat. Tidaklah mengherankan jika kita menemukan orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan tingkah laku orang-orang itu.

Tetapi ketidaknyamanan tidak berhenti pada rasa takut dan cemas semata. Orang berusaha untuk mengurangi ketidaknyamanan dengan berbagai cara. Salah satunya tentu saja dengan mencurigai pihak-pihak terkait. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, muncul tuduhan-tuduhan terhadap Pokemon Go yang seringkali tidak beralasan. Entah itu ancaman terhadap stabilitas atau konspirasi suatu kelompok, kecurigaan-kecurigaan itu tidak didasari argumen yang valid dan bukti yang kuat.

Tidak Selamanya Hal Baru itu Berbahaya

Hal-hal baru memang seringkali kelihatan aneh, tidak masuk akal, dan berbahaya. Mungkin jauh lebih aman jika kita menghindari hal-hal baru. Bagaimanapun, kepastian lebih membuat kita merasa nyaman. Namun jangan pernah lupa, seringkali kemajuan dimulai dari hal-hal yang aneh dan tidak biasa. Ratusan tahun lalu, semua orang percaya bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Orang yang tidak sepakat dianggap aneh atau bahkan dihukum oleh pihak otoritas. Namun apa jadinya jika Copernicus tidak pernah mencetuskan bahwa Bumi mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya?

Pokemon Go mungkin saat ini dicurigai oleh banyak pihak. Ini bisa dibilang wajar. Tetapi bukan berarti pasti ada konspirasi atau intrik politis dibaliknya. Sebaliknya, bisa jadi Pokemon Go membawa semacam revolusi dalam artian positif. Satu hal yang menarik dari Pokemon Go adalah kenyataan bahwa kita harus berjalan-jalan di luar rumah. Tidak hanya ini kelihatan baik untuk kesehatan fisik kita, kemungkinan kita berinteraksi atau bersosialisasi dengan orang-orang lain pun semakin tinggi. Ini melawan anggapan umum bahwa dunia maya menjauhkan kita dari aktivitas luar rumah dan membuat kita asosial. Bahkan, ahli-ahli berpendapat bahwa Pokemon Go juga bisa mengatasi depresi sekaligus baik bagi kesehatan mental.

Di era digital seperti sekarang ini, membatasi kedatangan teknologi baru sudah bukan lagi keputusan yang bijaksana. Jangan cepat mengambil posisi bahwa teknologi baru itu mengandung bahaya tanpa alasan yang jelas. Apalagi jika harus merasionalisasi bahaya itu dengan teori-teori konspirasi tanpa landasan yang kokoh. Ketidakpastian dan kebaruan harus dipahami, bukan malah dihindari. Selamat bermain Pokemon Go!

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn