Mengapa Kebiasaan Berolahraga Susah Bertahan Lama?

oleh Dewa Ayu Puteri Handayani (email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

 

 

Saat ini semakin banyak orang menyadari betapa pentingnya kesehatan untuk hidup mereka.  Olahraga yang dulunya hanya dilakukan sebulan sekali atau tidak sama sekali, kini bahkan dilakukan hingga setiap hari.  Tempat gym semakin ramai dipenuhi oleh orang dari berbagai kalangan. Taman kota atau kompleks perumahan dihiasi dengan orang-orang ber-jogging. Partisipasi masyarakat di berbagai kegiatan olahraga masal seperti color run, fun run, marathon, yoga bersama, dll pun semakin tinggi.

Apapun motivasi mereka dalam berolahraga, fakta ini sangat menggembirakan karena menunjukkan adanya harapan dan usaha untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Akan tetapi, masalah yang sering muncul adalah animo ini biasanya tidak bertahan lama pada masing-masing individu. Hanya bertahan 2 atau 3 minggu, kemudian tidak dilanjutkan lagi. Untuk kembali memulainya pun sangat susah, butuh usaha dan niat yang tinggi.

Bagi mereka yang tidak memiliki hobi atau keahlian dalam olahraga, bertahan pada rutinitas berolahraga memang menjadi hal yang sangat sulit. Ditambah dengan berbagai macam godaan yang datang silih berganti, baik godaan dari dalam diri maupun dari lingkungan. Rasa lelah dan waktu yang terbuang dengan berolahraga pun seolah semakin meyakinkan diri untuk mundur dari rutinitas tersebut. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat kebiasaan berolahraga sulit untuk bertahan lama?

Kepuasan segera vs. kepuasan tertunda

Olahraga memang memberikan manfaat yang sangat baik bagi fisik maupun psikologis manusia, namun hasil yang baik ini cenderung tidak datang segera. Misal, kamu ingin menurunkan berat badan 10 kg. Tentu saja untuk menurunkan berat badan sebanyak ini, kamu harus berolahraga secara rutin dan mengatur pola makan yang baik. Target ini pun tidak semata-mata segera bisa tercapai, butuh waktu yang lama (mungkin dalam 1-2 tahun), bergantung pada intensitas olahraga dan pola makan yang kamu lakukan.

Kenyataannya, banyak orang tidak berhasil meneruskan pola diet dan olahraga yang selama ini mereka lakukan karena tidak sabar menunggu hasil yang sangat lama. Mereka lebih memilih melakukan hal-hal yang bisa memberikan mereka kesenangan atau kepuasan segera, misalnya tidur atau sekedar bermalas-malasan di rumah, semata-mata karena hal tersebut lebih menyenangkan ketimbang pergi ke gym sekian kali namun hasilnya belum juga terlihat. Bermalas-malasan di rumah atau tidur tanpa mengenal waktu tentu saja memberikan kepuasan tersendiri yang sifatnya segera untuk diri kita, namun intensitasnya tidak lebih besar daripada kepuasaan saat berat badan turun 10kg.

Kepuasan kecil yang diperoleh segera/dalam jangka pendek seperti contoh bermalas-malasan di atas dalam ilmu psikologi disebut dengan kepuasan segera (immediate gratification), sedangkan kepuasan lebih besar yang tertunda/dalam jangka panjang yang dalam bahasan ini adalah penurunan berat badan 10 kg disebut dengan kepuasan tertunda (delayed gratification). Menunggu berat badan turun 10 kg akan memberikan kepuasan yang sangat besar namun sayangnya waktu untuk mendapatkan kepuasan tersebut sangat lama. Oleh karena itu, banyak orang kemudian gagal mencapai target tersebut karena lebih memilih mendapatkan kepuasan kecil dari aktivitas lain.

Ya, menunda kesenangan akan sesuatu yang lebih besar itu adalah pilihan. Jika diberikan pilihan antara mendapatkan kesenangan kecil yang ada di depan mata dan kesenangan lebih besar namun tertunda, mungkin sebagian besar dari kita akan memilih kesenangan lebih besar yang tertunda. Mengapa? Karena kita merasa mampu menunggu untuk mendapatkan kepuasan besar yang tertunda tersebut. Namun, dalam perjalanannya ternyata semua itu tidak mudah, apalagi dalam bidang olahraga dimana dibutuhkan usaha yang keras dan waktu yang panjang untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Akibatnya, kita mulai merasa tidak sabar dan kemudian memilih hal-hal di depan mata yang menawarkan kesenangan segera.

Kontrol diri dan disiplin dalam berolahraga

Penelitian dalam bidang psikologi menyebutkan bahwa kemampuan seseorang untuk mampu mengabaikan kepuasan-kepuasan kecil yang segera demi mendapatkan kepuasan yang lebih besar di masa depan erat kaitannya dengan kontrol diri yang baik. Dengan kontrol diri yang baik, kita akan mampu untuk membuat prioritas pada apa yang penting dilakukan dan apa yang hendak dicapai, sehingga perilaku yang ditunjukkan pun akan mengarah pada target yang dianggap penting tersebut. Jika kesehatan dipandang sebagai salah satu prioritas, maka kita akan fokus pada peningkatan kesehatan tersebut dengan berolahraga dan kita akan komit dengan itu. Singkatnya, kontrol diri yang baik akan menjadi awal terbentuknya kedisiplinan dan komitmen dalam berolahraga.

Oleh karena itu, kemampuan menahan hasrat terhadap hal-hal yang mampu memberikan kepuasan segera demi sesuatu yang lebih besar di masa depan menjadi penting demi mencapai target yang diinginkan dengan berolahraga. Dalam mencapai ini, akan sangat baik jika kamu mampu menyusun target-target kecil yang membuatmu bisa mencapai target besarmu. Misalnya, jika tujuan akhirmu adalah berat badan turun 10kg, maka penurunan berat badan setiap 2kg adalah target kecilmu. Berikan penghargaan pada dirimu sendiri setiap kali target-target kecil ini tercapai. Dengan begitu, waktu yang lama untuk mencapai target utama pun tidak lagi menjadi masalah karena ada target-target kecil yang jika dicapai juga akan memberikan kepuasan tersendiri untuk diri kita. Kamu akan merasa bahwa tujuan akhirmu sudah semakin dekat dan bukan mustahil untuk dicapai. Inilah yang kemudian akan membuat kamu bertahan untuk mencapai target-target tersebut.

Menunda kesenangan untuk memperoleh hasil yang lebih besar memang bukan hal yang mudah. Semua itu bisa memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, tergantung dari apa yang ingin kamu capai. Bukankah tidak ada hasil yang bisa diperoleh dengan mudah dan cepat di dunia ini? Bersabarlah dan jangan pernah menyerah.

 

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn