Prank bukan Eksperimen Sosial

oleh Iqbal Maesa (email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video di YouTube milik Eno Bening yang membahas kegusarannya soal video prank yang makin menjamur sebagai salah satu konten di YouTube. Salah satu argumen yang ia sampaikan adalah pelaku prank menuliskan bahwa prank merupakan eksperimen sosial. Saya tidak akan mengulang atau menjelaskan poin-poin yang disampaikan Eno mengenai keresahannya akan prank, yang notabene dia prediksi juga sebagai salah satu konten YouTube yang akan populer tahun ini. Saya membiarkan kalian menonton video itu (sekaligus menaikkan view dan traffic ke video tersebut. Thank me later, No!).

Terlepas bahwa video prank merupakan settingan, menganggap bahwa prank sebagai eksperimen sosial adalah salah secara prosedural. Mengacu pada buku-buku penelitian eksperimental yang saya baca, eksperimen terhadap perilaku manusia harus memiliki dua hal esensial dalam pelaksanaannya: debrief dan (kelompok) manipulasi.

Debrief merupakan pernyataan yang diberikan pada partisipan eksperimen mengenai apa yang sedang diteliti dan manipulasi apa yang diberikan pada (kelompok) partisipan. Debrief berfungsi agar partisipan tidak merasa tertipu dalam eksperimen yang dilakukan. Urgensi debrief akan lebih tinggi apabila ada "tipuan" atau ambiguitas yang dilakukan dalam eksperimen, misalnya menyatakan di awal eksperimen bahwa tujuan eksperimen adalah melihatinteraksi dengan tetangga dan rekan kerja padahal tujuan sebenarnya dari eksperimen tersebut adalah menilai rasisme terhadap orang-orang yang tidak masuk dalam identitas sosialnya.

Debrief juga memiliki fungsi sebagai pencegahan after-effect dari eksperimen. Pada prank terkait bunuh diri, misalnya, partisipan harus diberikan debrief yang tidak hanya menjelaskan tujuan eksperimen dan sebenarnya tidak ada yang terluka dalam prank yang dilakukan, tetapi juga ke mana dan apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi apabila muncul pemikiran bunuh diri di luar setting eksperimen. Saya sendiri tidak melihat ada durasi atau satu video khusus di channel prank YouTubers (Indonesia terutama) yang menunjukkan bagaimana mereka melakukan debrief terhadap partisipan eksperimen. Debrief untuk channel prank juga berfungsi untuk meyakinkan pemirsa bahwa reaksi atau respon partisipan eksperimen dapat digunakan (sebagai media tontonan untuk publik). Akan lebih baik jika sesi debrief ini ditampilkan pada publik,pun jika tidak berikan disclaimer bahwa para pelaku prank udah melakukan debrief pada orang-orang yang sudah kalian kerjai.

Poin kedua adalah kelompok eksperimental. Mengembalikan pada literatur, studi eksperimen (sosial)setidaknya memiliki dua kelompok yang dibandingkan. Jumlahnya bisa lebih, namun harusnya lebih dari satu kelompok saja. Saya tidak akan menyarankan kalian menggunakan kelompok kontrol (yang tidak dikerjai sama sekali) karena akan terkesan seperti eksperimen sosial yang serius, namun coba menggunakan kelompok eksperimen yang lain. Dengan demikian, kalian harus memaksa diri untuk lebih kreatif mengenai aspek apa saja yang dapat menjadi celah bagi konten prank yang akan dilakukan.Contoh yang dapat saya berikan adalah: bagaimana reaksi orang dalam prank satu-lawan-banyak ketika pihak yang banyaknya adalah perempuan semua dibanding laki-laki semua, pekerja yang terlambat ke kantor dibanding dengan zombie. Masih banyak lagi ide yang dapat dieksplor dari hanya sekedar mengerjai orang dan mendapat bagian penonton dari reaksi orang yang dikerjai.

Penonton video prank mungkin tidak hanya akan tergelak melihat respon partisipan yang kalian kerjai, tetapi mungkin akan terdidik secara implisit atau mendapatkan tilikan (insight) dari perbedaan situasi dan respon prank yang dilakukan.

Semoga tulisan ini setidaknya bermanfaat bagi dua pihak.Bagi pemilik channel prank, kalian bisa menbuat konten lebih cerdas dan menarik penonton dibandingkan hanya sekedar one-shot mengerjai orang dan membuat pemirsa tergelak karena reaksi orang yang dikerjai.Bagi peneliti sosial, semoga di antara kalian yang membuatchannel prank yang sesuai dengan kaidah eksperimen sosial sehingga pamor kalian naik sekaligus mengaplikasikan ilmu yang kalian dapat.

Untuk para (calon) orang-orang yang akan dikerjain? Nikmati prosesnya, jangan mau terima apabila diminta menjadi partisipan bayaran atau settingan (cukup penonton talkshow aja yang bayaran :P), dan waspadalah...waspadalah (ala bang Napi). 

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn