STOP LABELLING PADA ANAK !

Oleh Wirdatul Anisa ( wirdatulanisa.wordpress.com)

 

“anaknya pemalu, Mbak..”,

“dasar anak bodoh!”,

“kamu, nakal banget sih..”

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata tersebut mungkin tidak asing bagi kita. Baik mendengar dan melihat tanpa sengaja, atau bahkan mungkin kita sendiri yang melakukannya. Hal tersebut merupakan tindakan labelling, yaitu pemberian suatu kata atau atribusi untuk menggambarkan keadaan seseorang terkait dengan perilaku, kondisi fisik, atau intelektual. Labelling telah menjadi suatu hal yang biasa dan sering dilakukan oleh orangtua atau orang dewasa kepada anak. Selain itu, pemberian label juga dianggap sebagai hal yang wajar dan bukanlah sesuatu yang serius karena tidak begitu tampak dampak negatif dari adanya labelling ini.

Seseorang cenderung lebih mempercayai bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya dibandingkan penilaiannya sendiri. Mungkin hal tersebut juga terjadi pada kita. Begitu juga pada anak yang mendapatkan label dari lingkungan sosialnya, khususnya label negatif. Label negatif yang diberikan pada anak secara terus menerus akan terinternalisasi dan mempengaruhi konsep diri atau bagaimana cara anak memandang dirinya sendiri. Ia akan memiliki pandangan mengenai dirinya sebagaimana yang orang lain sebutkan. Terlebih lagi, jika label tersebut didapatkan dari orangtua atau anggota keluarga terdekatnya. Anak akan semakin mempercayai label yang diberikan kepadanya.

Konsep diri yang telah terpengaruh oleh label tersebut akan mempengaruhi anak dalam bertingkah laku. Anak yang diberikan label “pembohong” akan cenderung untuk terus berbohong karena ia merasa orang lain telah meyakininya sebagai pembohong sehingga tidak akan ada orang yang percaya jika ia bersikap jujur. Begitu juga dengan label-label negatif yang lain. Ketidaksiapan anak dalam menerima label tersebut dapat membuat anak memiliki kecemasan, kepercayaan diri yang rendah, keengganan untuk mengeksplorasi diri, atau bahkan depresi.

Adanya pemberian label negatif juga akan menyebabkan orangtua atau lingkungan sekitarnya mengabaikan potensi yang dimiliki anak. Misalnya, ketika orangtua melabel anaknya sebagai “anak bodoh”, orangtua akan memberikan pekerjaan yang sederhana kepada anak karena mereka berpikir bahwa anaknya tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit. Hal tersebut akan menyebabkan anak semakin kekurangan stimulasi dari lingkungannya sehingga potensi anak akan semakin tidak berkembang. Pemberian label kepada anak juga akan mempengaruhi bagaimana sikap orangtua kepada anaknya. Orangtua yang melabel anaknya sebagai “anak pembohong” akan sulit mempercayai apa yang dikatakan dan dilakukan oleh anaknya. Orangtua akan memiliki sikap curiga terus menerus kepada anaknya yang dapat memunculkan permasalahan lain, seperti sikap berontak anak terhadap orangtua.

Lalu, apa yang dapat orangtua atau lingkungan lakukan agar anak tidak mendapatkan label negatif yang dapat menganggu proses perkembangannya? Pertama, berikanlah respon yang spesifik mengenai perilaku anak, bukan kepribadiannya. Jika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, jangan langsung memberikan label negatif karena anak akan mempersepsikannya sebagai gambaran dirinya. Jika anak membuat temannya menangis atau marah, jangan tergesa untuk memberikan label “nakal” pada mereka. Akan tetapi, berikan respon dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan salah, misalnya “itu kan bukan mainan kamu, jika ingin pinjam minta izin dulu, tidak dengan merebut seperti itu..”. Kedua, pergunakan label untuk hal-hal yang berhubungan dengan bidang pendidikan atau perkembangan anak. Ketika orangtua merasa atau anak dinyatakan memiliki keterlambatan dalam proses belajar, orangtua dapat meluangkan waktunya untuk mendampingi anak dalam belajar dan memberikan stimulasi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan anak. Ketiga, berikan apresiasi positif atau hukuman secara tepat dan tidak berlebihan. Apresiasi dapat meningkatkan perilaku yang diharapkan, sementara hukuman dapat mengurangi perilaku yang tidak diharapkan apabila diberikan secara efektif. Dalam menyampaikan apresiasi atau hukuman, sebaiknya juga disertai dengan adanya pemahaman yang disampaikan kepada anak sehingga ia tahu mengapa ia mendapatkan apresiasi dan hukuman. Keempat, munculnya label negatif pada anak seringkali tidak disadari oleh orangtua karena adanya rasa marah atau terbatasnya kesabaran dalam mengasuh anak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk dapat mengelola emosinya ketika menghadapi anak. Apabila orangtua merasa bahwa dirinya tidak lagi mampu menahan marah, lebih baik menarik diri hingga emosi reda. Jika label negatif tanpa sengaja terucap, jangan ragu untuk menyadari kesalahan dan meminta maaf. Hal tersebut secara tidak langsung juga akan memberikan proses pembelajaran kepada anak. Kelima, menerima anak apa adanya. Munculnya label negatif dari orangtua kepada anak seringkali karena ketidakmampuan orangtua dalam memahami atau menerima kondisi anak. Penting adanya penerimaan terhadap anak sehingga ketika apa yang dilakukan anak tidak sesuai dengan yang diharapkan, orangtua tidak mudah memberikan label pada anak.

 

*artikel ini dimuat dalam blog pribadi penulis (wirdatulanisa.wordpress.com)

 

 

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn