Lindungi Anak dari Bahaya Screen Time

Oleh Wirdatul Anisa (wirdatulanisa.wordpress.com)

  

Mungkin sudah menjadi fenomena umum, ketika orangtua membiarkan anaknya menggunakan gadget berjam-jam selama anak bersikap tenang dan tidak membuat keributan. Hal yang demikian dikenal dengan screen time, yaitu melakukan kegiatan di depan layar elektronik, seperti televisi atau gadget. Aktivitas yang berkaitan dengan screen time tersebut seperti menonton video, melihat gambar, menulis teks, bermain game, atau menggunakan media sosial.

Meskipun sangat membantu orangtua dalam menenangkan anak, namun screen time memiliki dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Sayangnya, belum banyak orangtua yang mengetahui hal tersebut. Victoria dalam bukunya Reset Your Child’s Brain menuliskan bahwa screen time dapat menyebabkan anak mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa dan keterampilan sosial. Selain itu, stimulasi yang berlebihan saat anak melakukan kegiatan di depan layar elektronik dapat mempengaruhi kesehatan otak, khususnya yang berkaitan dengan fungsi eksekutif. Anak akan mengalami kesulitan dalam konsentrasi, sulit untuk mengikuti aturan, mengendalikan diri, dan juga menyelesaikan pekerjaan apabila fungsi eksekutifnya tidak berkembang dengan baik. 

Lalu bagaimana cara agar anak terhindar dari dampak negatif screen time? Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan screen time yang sehat di rumah, yaitu: 

Pertama, jadikan kamar tidur sebagai area bebas layar atau screen free. Hal tersebut akan membantu mengurangi aktivitas screen time pada malam hari dan sebelum tidur sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur anak. 

Kedua, lakukan screen time bersama-sama. Keuntungan melakukan screen time bersama adalah dapat mengawasi aktivitas yang dilakukan anak, terlebih lagi saat mengakses internet. Hal tersebut dapat mencegah anak dari melihat situs atau melakukan interaksi media sosial yang tidak tepat. Ketika mendampingi anak melakukan screen time, orangtua juga dapat memberikan pemahaman mengenai penggunaan internet yang baik kepada anak.

Ketiga, jadikan aktivitas screen time sebagai hadiah setelah anak menyelesaikan pekerjaannya dan seimbangkan dengan aktivitas fisik. Hal tersebut menjadi salah satu cara untuk mengajarkan manajemen screen time pada anak. Dengan peraturan tersebut, anak mengerti kapan ia dapat melakukan aktivitas screen time. Tentunya peraturan tersebut harus dibicarakan dan disepakati bersama antara orangtua dan anak. Perlu diingat bahwa tetap ada batasan harian dalam penggunaan screen time anak. American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak-anak berusia dua hingga lima tahun memiliki screen time maksimal selama satu jam. 

Keempat, ciptakan waktu dan tempat yang bebas dari gadget atau screen free. Orangtua dan anak dapat membuat kesepakatan mengenai waktu-waktu dan tempat yang bebas dari aktivitas menggunakan gadget. Tentunya, peraturan tersebut berlaku tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orangtua. Apabila peraturan telah ditetapkan, orangtua juga harus mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan aktivitas screen time di waktu screen free atau ketika sedang bersama anak. 

 

 

 

*artikel ini dimuat dalam blog pribadi penulis (wirdatulanisa.wordpress.com)

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn