Ajak Anak untuk Merasakan Alam Bebas

Oleh Puspita Insan Kamil

 

 

Saya mengenal John Muir tahun 2010. Pada saat itu, saya baru saja mengetahui tentang Sierra Club, organisasi yang mempromosikan konservasi, anti pertambangan batu bara dan eksploitasi sumber daya alam, dan menginspirasi banyak orang untuk berkunjung ke Taman Nasional. John Muir adalah “Bapak Konservasi” di Amerika Serikat, dan hingga kini masih dikenang dengan pesan-pesannya tentang konservasi dan kemanusiaan. Sejak tahun 2010 itulah saya kerap berkunjung ke alam bebas, lepas dari hingar bingar ibukota yang menjemukan.

Kemudian seiring waktu, saya bertemu banyak orang hebat yang memiliki profesi terkait dengan konservasi, atau jika merujuk pada kamus Oxford, adalah usaha pelestarian dan perlindungan lingkungan dan satwa liar. Saya memperhatikan, ada persamaan mendasar dari para aktivis, pekerja, atau peneliti konservasi yang secara konsisten berkiprah di bidang ini: mereka memiliki pengalaman masa kecil dengan alam.

Pengamatan ini bermula saat saya mendaki gunung di area Taman Nasional Glacier Park di Amerika Serikat bagian utara, dekat perbatasan Kanada. Saya berbincang dengan Nick Triolo, seorang aktivis, pendaki gunung, akademisi, dan juga seorang atlit alam bebas profesional. Saat itu ia akan menggarap sebuah penelitian untuk menemukan hubungan antara pengalaman masa kecil dengan konsistensi di bidang pelestarian lingkungan. Saya terbayang pengalaman saya saat kecil: buku cerita pertama yang didongengkan ibu saya adalah mengenai lumba-lumba yang tersesat akibat pukat nelayan.

Pengamatan saya ternyata divalidasi oleh sejumlah penelitian. Chawla (1999) menemukan dari hasil wawancara dengan 30 penggiat lingkungan di Kentucky dan 26 penggiat lingkungan di Norwegia, sebanyak 77% mendapatkan pengaruh dari keluarga dan pengalaman dengan alam bebas untuk kemudian menekuni kegiatan lingkungannya. Riviu dari Matsuba dan Pratt (2013) kemudian juga menjelaskan bahwa alasan-alasan yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan seseorang kebanyakan datang dari pengalaman dengan alam, pengaruh orang lain dan organisasi, kesempatan mendapatkan pendidikan lingkungan, pembentukan identitas dan environmental self, serta generativity.

Studi yang menarik menurut saya adalah studi dari Alisat, dkk. (2014), yang menemukan bahwa generativity atau kepedulian terhadap generasi selanjutnya, menjadi faktor yang memediasi hubungan antara identitas sebagai seseorang yang peduli lingkungan dengan keterlibatan partisipan dalam isu lingkungan. Seperti yang kita tahu, mediator adalah satu hal yang dipengaruhi variabel pertama (dalam hal ini adalah identitas lingkungan), dan juga memberi pengaruh pada variabel kedua (keterlibatan partisipan menjadi aktivis lingkungan). Hal ini menarik, karena menambah pemahaman bahwa bukan hanya seorang penggiat lingkungan memiliki pengalaman masa kecil, namun juga peduli dengan generasi selanjutnya. Ada semacam siklus berkelanjutan di dalamnya.

 

 

 

Di Amerika sendiri kini makin banyak pendidikan dan ajakan untuk anak kembali ke alam bebas. Yang paling menarik perhatian saya adalah film pendek berjudul “Play Again”, yang menunjukkan betapa dekatnya anak-anak kini dengan teknologi dan kemudian diajak merasakan alam bebas kembali. Saya juga pernah menuliskan mengenai terbatasnya ruang terbuka hijau yang ramah bagi anak-anak di Jakarta, karena mungkin para perancang lupa bagaimana mereka pernah menjadi anak-anak, sehingga fokus pada pengembangan ruang untuk usia kerja untuk mendatangkan profit. (silakan dibaca klik di sini  ). Padahal dari pengamatan saya, orang-orang yang terbiasa dengan alam memiliki kemampuan spasial yang lebih baik sehingga baik dalam mengenal ruang dan tidak mudah tersasar, memiliki kemampuan adaptasi yang baik terutama dengan masyarakat lokal sehingga terbiasa dengan perubahan, dan juga memiliki tubuh yang lebih sehat.

Menurut saya, adalah sayang jika kita hanya mengenalkan alam bebas pada anak-anak kita sebatas dalam buku atau tayangan video. Indonesia adalah negara biodiversity hotspot, yang diterangkan Conservation International (2016) telah memiliki dua syarat ketat dalam penentuan sebuah lokasi sebagai biodiversity hotspot, yakni: (1) sekurang-kurangnya terdapat 1.500 spesies tumbuhan berpembuluh (vaskular) yang endemik, dan (2) tersisa 30% atau di bawah persentase tersebut dari spesies asli daerah tersebut, atau terancam. Keanekaragaman spesies tumbuhan tersebut menunjang adanya berbagai satwa di daerah tersebut. Di seluruh dunia hanya terdapat 35 lokasi biodiversity hotspot, atau menutupi sekitar 2,3% permukaan planet Bumi, namun memiliki hampir 43% spesies burung, mamalia, reptil, dan amfibi sebagai satwa endemik (Conservation International, 2016).

Sebagai permohonan pribadi, saya juga ingin meminta pada orang tua dan calon orang tua untuk membiarkan anaknya berkarir di bidang lingkungan, karena saat ini masih sulit menemukan mereka yang diizinkan keluarganya berkarir di bidang konservasi. Jika kita merujuk pada hipotesis biophilia (setiap manusia pada dasarnya menyenangi alam dan mencari koneksinya dengan makhluk hidup lain) setiap orang bisa saja dengan mudah menjadi penggiat lingkungan, saya menolak konsep tersebut. Pendidikan dan pengalaman adalah hal terbaik yang bisa kita berikan pada anak agar ia bisa kembali merasakan alam bebas, dan hidup dalam harmoni bersama makhluk hidup yang lainnya.

 

Referensi

Alisat, S., Norris, J. E., Pratt, M. W., Matsuba, M. K., & McAdams, D. P. (2014). Caring for the Earth: Generativity as a mediator for the prediction of environmental narratives from identity among activists and nonactivists. Identity: An International Journal of Theory and Research, 177-194.

Chawla, L. (1999). Life Paths Into Effective Environmental Action. The Journal of Environmental Education, 15-26.

Conservation International. (2016). Hotspots. Retrieved July 16, 2016, from Conservation International: http://www.conservation.org/How/Pages/Hotspots.aspx

Matsuba, M. K., & Pratt, M. W. (2013). The making of an environmental activist: A developmental psychological perspective. In M. K. Matsuba, P. E. King, K. C. Bronk, & (Eds.), Exemplar methods and research: Strategies for investigation. New Directions for Child and Adolescent Development (pp. 59-74). San Fransisco: Jossey-Bass.

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn