Prank bukan Eksperimen Sosial

oleh Iqbal Maesa (email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video di YouTube milik Eno Bening yang membahas kegusarannya soal video prank yang makin menjamur sebagai salah satu konten di YouTube. Salah satu argumen yang ia sampaikan adalah pelaku prank menuliskan bahwa prank merupakan eksperimen sosial. Saya tidak akan mengulang atau menjelaskan poin-poin yang disampaikan Eno mengenai keresahannya akan prank, yang notabene dia prediksi juga sebagai salah satu konten YouTube yang akan populer tahun ini. Saya membiarkan kalian menonton video itu (sekaligus menaikkan view dan traffic ke video tersebut. Thank me later, No!).

Terlepas bahwa video prank merupakan settingan, menganggap bahwa prank sebagai eksperimen sosial adalah salah secara prosedural. Mengacu pada buku-buku penelitian eksperimental yang saya baca, eksperimen terhadap perilaku manusia harus memiliki dua hal esensial dalam pelaksanaannya: debrief dan (kelompok) manipulasi.

Debrief merupakan pernyataan yang diberikan pada partisipan eksperimen mengenai apa yang sedang diteliti dan manipulasi apa yang diberikan pada (kelompok) partisipan. Debrief berfungsi agar partisipan tidak merasa tertipu dalam eksperimen yang dilakukan. Urgensi debrief akan lebih tinggi apabila ada "tipuan" atau ambiguitas yang dilakukan dalam eksperimen, misalnya menyatakan di awal eksperimen bahwa tujuan eksperimen adalah melihatinteraksi dengan tetangga dan rekan kerja padahal tujuan sebenarnya dari eksperimen tersebut

Pokemon Go dan Neofobia

Oleh Joevarian Hudiyana

 

Kita hidup dalam era dimana segala informasi berada dalam genggaman kita. Entah itu untuk membuka facebook; melihat-lihat foto di instagram, mengobrol dengan whatsapp; atau membaca berita terkini dari internet, pemandangan orang yang sibuk dengan dunia maya sudah tidak asing di mata kita. Dimanapun, kita akan melihat orang-orang sibuk dengan perangkat seluler mereka masing-masing.

Tapi nampaknya baru-baru ini kesibukan itu naik ke level berikutnya. Sekarang ini, orang bisa menangkap makhluk-makhluk imajiner bernama pokemon dalam sebuah bola kecil menggunakan smartphone. Cukup mengunduh aplikasi bernama Pokemon Go, mendaftarkan akun google, dan menyalakan GPS, kita bisa menangkap Pikachu, Bulbasaur, Charmander, Squirtle, dan ratusan spesies pokemon lainnya. Kita hanya perlu keluar rumah dan mengunjungi berbagai tempat.

Tidak disangka-sangka, aplikasi Pokemon Go ternyata cukup menghebohkan Indonesia. Dalam waktu singkat saja, banyak orang mulai menyukai dan mengikuti tren baru ini. Media massa pun mulai memberitakan fenomena tersebut. Sebetulnya ini tidak mengherankan jika melihat konsep Pokemon Go yang cukup revolusioner. Mereka menjadikan